Sambut Milad Kohati, Kohati Cabang Surabaya Gelar Penyuluhan Antikekerasan Seksual Pada Anak.

Independensi.id. Surabaya – Bertepatan dengan momen milad Korps HMI Wati (KOHATI) yang ke 50, KOHATI HMI Cabang Surabaya mengadakan serangkaian kegiatan tentang upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak di kota Surabaya. Acara di selenggarakan di Taman Paliatif Ambengan pada Minggu (18/9) dengan menggandeng Surabaya Save  Child dan Gerakan Anti Narkotika (GRANAT) sebagai partner dalam kegiatan tersebut.

Dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dan 50 anak jalanan , Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Surabaya Sofia Al-farizy mengungkapkan bahwa Kota Surabaya memiliki angka untuk  kasus  kekerasan  seksual  anak  cukup  tinggi  dan  akhir-akhir  ini  mengalami peningkatan.

Menurut Sofia, dari data Polrestabes  Surabaya disebutkan  selama periode 2011 hingga periode Agustus 2014 telah mengalami peningkatan dalam kasus kekerasan seksual anak. Dari data itu disebutkan bahwa tahun 2011 terdapat 58 kasus, tahun  2012  terdapat  70  kasus,  tahun  2013  terdapat  76  kasus,  tahun  2014  hingga agustus terdapat 53 kasus. Sedangkan dari data Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, tambah Sofia, tercatat dalam tiga bulan terakhir sudah ada 23 kasus tindak pidana pencabulan dan persetubuhan di wilayah hukum Polrestabes Surabaya.

Menurut Kanit PPA Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni, angka tersebut meningkat drastis dibanding tahun 2015 yang hanya 17 kasus.Dari 23 korban dalam kasus pencabulan ini, tujuh pelaku berstatus masih pelajar dan sisanya 16 pelaku adalah orang dewasa. Rata-rata para korban berhasil disetubuhi hanya dengan perkenalan melalui media sosial. Paling banyak adalah di wilayah Surabaya bagian Barat.

“Kekerasan seksual terhadap anak dapat dilihat dari sudut pandang biologis dan sosial, yang kesemuanya berkaitan dengan dampak psikologis pada anak. Secara biologis, sebelum pubertas, organ-organ vital anak tidak disiapkan untuk melakukan hubungan intim, apalagi untuk organ yang memang tidak ditujukan untuk hubungan intim. Jika dipaksakan, maka tindakan tersebut akan merusak jaringan”,ujar Sofia.

Ketika terjadi kerusakan secara fisik, maka telah terjadi tindak kekerasan. Sedangkan dari sudut pandang sosial, karena dorongan seksual dilampiaskan secara sembunyi-sembunyi, tentu saja pelaku tidak ingin diketahui oleh orang lain. Pelaku akan berusaha membuat anak yang menjadi sasaran ‘tutup mulut’. Salah satu cara yang paling mungkin dilakukan adalah dengan melakukan intimidasi.

Koordinator Surabaya Save Child, Om Roy menerangkan dalam penyampaiannya terkait pemahaman tentang bahaya narkoba dan seks bebas yang belum tersosialisasikan secara masif hingga ke anak jalanan.

“Anak-anak jalanan di Bungkul merupakan salah satu contoh bahwa narkoba dan seks bebas sudah merambah di kalangan mereka. Mereka cenderung minim pengawasan orangtua dan sangat paham bahasa-bahasa yang berbau pornografi”ujar Roy.

Untuk mengawali kegiatan ini dilaksanakan kepada anak-anak jalanan yang sering mendapatkan perilaku diskriminasi oleh orang-orang sekitarnya. Kegiatan diawali dengan pendidikan satu arah tentang seks dan diselingi dengan narkoba, setelah itu dilakukan suatu permainan ular tangga yang disertai dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai seks dan narkoba.

“Semoga Jihad Generasi ini adalah upaya untuk menyelamatkan generasi muda Indonesia khususnya Surabaya”,pungkas Sofia mengakhiri keterangannya.

Ditemui secara terpisah, Ketua Umum HMI Cabang Surabaya Wildan Hilmi Z.A menjelaskan betapa sangat memprihatinkan kondisi perlindungan anak di Indonesia. Menurutnya, meskipun Kota Surabaya memiliki langkah-langkah yang sangat protektif terhadap kondisi anak, namun angka kekerasan seksual terhadap anak cenderung meningkat dari waktu ke waktu.Hal ini tentu membutuhkam kehadiran negara untuk menyelesaikannya.

“Fakta berbicara bahwa hingga hari ini negara kita belum memiliki lembaga yang berkonsentrasi menangani permasalahan perlindungan anak. Sehingga, tidak heran jika masalah ini tidak akan dapat diminimalisir”,ujar Wildan yang juga mahasiswa ITS Surabaya itu.

Wildan juga menambahkan bahwa langkah negara dalam menerapkan hukum kebiri belum cukup memberikan solusi karena sifat hukum kebiri yang cenderung reaktif, bukan preventif. Kegiatan ini adalah serangkaian aksi KOHATI HMI Cabang Surabaya dalam rangka memberikan pendidikan dasar tentang kekerasan seksual kepada anak-anak di Surabaya (dzul).

 

Apa Komentar Kalian?