‘Salah Paham’ yang Terbenam

Oleh : Ismail Id

(Kader HMI Cabang Pamekasan)

Di negara kita, tingkat kesadaran akan pentingnya pendidikan sudah mulai menunjukkan titik terang. Mayoritas masyarakat Indonesia sadar betul bahwa pendidikan merupakan hal yang penting untuk menopang kualitas dan taraf hidup. Hal ini dibuktikan dengan terus meningkat dan menjamurnya lembaga pendidikan mulai dari tingkat PAUD sampai perguruan tinggi.

Pembuktian singkat tidak hanya itu, lembaga-lembaga pendidikan yang ada selalu menampung peserta didik yang terus meningkat setiap tahunnya. Tampaknya hal tersebut harus menjadi perhatian, banyak menyita waktu dan pikiran yang lebih bagi lembaga pemerintah yang menaungi pendidikan.

Kesadaran masyarakat terhadap  pentingnya pendidikan tidak lepas dari perkembangan teknologi dan industri. Perkembangan teknologi membuat masyarakat menyadari betul bahwa untuk memahami dan mempergunakan produk teknologi secara bijak merupakan buah dari pemahaman yang diberikan dalam dunia pendidikan. Tanpa pemahaman dan arahan yang mendidik produk tekologi yang ada akan menjadi sumber kerusakan baik bagi moral ataupun finansisal. Kesadaran yang dilatari hal tersebut akan memicu semangat kesadaran pendidikan yang tidak hanya akan mengahsilkan positif pemakaian tetapi juga akan berpengaruh pada kreatifitas dan peningkatan kualiitas bahkan bisa menjadi semangat penciptaan produk yang baru.

Sedangkan kesadaran yang didasari oleh kesadaran akan perkembangan industri menunjukkan bahwa masyarakat kita sudah mulai cerdas melihat, membaca dan memanfaat kesempatan untuk bisa menjadi bagian dari perkembangan yang ada terutama dalam bidang industri. Perkembangan industri yang tidak terbendung seperti perkembangan teknologi membutuhkan tenaga ahli untuk bisa memberi produk terbaru yang sesuai dengan kebutuhan dan keperluan zaman. Dan ini yang disadari betul oleh masysrakat kita dengan menyekolahkan anak-anaknya dalam spesifikasi bidang dan keahlian tertentu, dan nampaknya dukungan pemerintah sangat sesuai dengan kondisi tersebut. Pemerintah berhasil memainkan perannya dengan misalnya pengembangan kualitas Sekolah Menengah Kejuruan yang diisi dengan jurusan-jurusan yang sesuai.

Namun orientasi kesadaran yang terbangun hanya pada materi semata. Kesadaran pentingnya dan manfaat dari pendidikan yang jauh lebih penting yang non-materi kurang atau bahkan tidak disadari sama sekali. Bahwa capaian pendidikan seseorang yang bisa dibilang sukses adalah jangkauan manfaat yang luas tidak sama sekali menjadi titik tolak kesadaran pentingnya pendidikan mayoritas masyarakat kita.

Masyarakat kita dari dulu telah memegang kuat anggapan dan keyakinan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi akan membawa orang terdidiknya pada pekerjaan yang mapan. Hal ini sangat miris saya rasa, karena orang yang terdidik yang seharusnya membuat dan menciptakan perubahan positif yang menfaatnya menjangkau kalangan luas –terutama mereka yang tidak punya kesempatan dan kemampuan untuk merasakan pengalaman pendidikan bagus seperti dirinya- menjadi dan harus mengejar dan mengusahakan pekerjaan ‘nyaman’ yang manfaatnya hanya dirasakan sendiri. Keadaan demikian sunggguh jauh dari esensi dasar fungsi orang terdidik.

Mind set demikian harusnya disadarai oleh seluruh masyarakat kita bahwa manfaat pendidikan tidaklah harus berupa materi apalagi hanya dirasakan manfaatnya sendiri. Namun pada kenyataannya anggapan pendidikan bagus akan memperoleh pekerjaan bagus tidak hanya tidak disadari masyarakat kurang terdidik, namun kalangan terdidik sekalipun memuja dan menganggap demikian. Sungguh sangat fatal ketika kalangan terdidik yang harus merubah mindset demikian harus terjebak pada lingkaran ‘salah paham’ tersebut.

Akibat yang sering terjadi dari ‘kesalahan paham tersebut adalah ketertinggalan yang berlarut-larut satu daerah dan bahkan bisa juga satu bangsa. Kesadaran pendidikan memang sudah sangat menyebar jauh ke pelosok pedesaan. Para orang tua di desa berusaha keras agar anak-anaknya bisa mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak dengan mengirimkan mereka ke kota untuk menimba ilmu. Namun ‘kesalahpahaman’ seperti di atas membuat mereka yang telah sukses dalam capaian pendidikannya enggan untuk kembali ke desa dengan alasan karir yang cemerlang di desa. Ya, materi menjadi ekspektasi orientasi kesuksesan pendidikan.

Mereka tidak menyadari bahwa capaian pendidikan yang mereka peroleh susah payah dan tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama dengannya seharusnya mereka bagikan tehadap lingkungan sekitar di daerah asalnya agar hak-hak dasar memperoleh pendidikan tak terbatas dapat dirasakan bersama. Seharusnya misi utama kalangan terdidik adalah merubah mindset salah paham tersebut, membumikan kesadaran pendidikan dan menyadarkan mereka –kalangan terdidik- yang masih mengira bahwa kesuksesan pendidikan hanya terbukti melalui capaian karir dan materi yang cemerlang. Dengan asumsi bahwa pendidikan seseorang bisa dikatakan sukses apabila manfaat yang ditawarkan dan diberikan dapat dirasakan dalam skala luas atau secara komunal bukan dirasakan diri sendiri atau personal, karena esensi dari sebuah pendidikan adalah memanusiakan manusia.

Kiranya pemahaman demikian harusnya disosialisasikan oleh pemerintah agar tujuan dan program yang dirancang dapat terealisasi secara sempurna. Karena dengan demikian akan tercipta sebuah kerja sama yang secara tidak langsung akan saling mendukung satu sama lain. Selain itu keberlangsungan suatu negara akan terjamin dengan masyarakat sadar pendidikan yang tidak ‘salah paham’ terhadap peran dan fungsi pendidikan itu sendiri (*)

Apa Komentar Kalian?