Ramangsa Institute Gelar Diskusi Penanaman Ideologi Pancasila

Independensi.id, Bekasi – Ramangsa Institute sebagai lembaga kajian yang terkonsentrasi dalam ketahanan dan bela negara, kembali menggelar diskusi kebangsaan Kobul atau Kongkow Bulanan dengan tema “Ideologi Transnasional versus Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”, Selasa (11/04/2017) di rumah makan di Jalan Jenderal Sudirman, KM 34 No. 01, Kota Bekasi.
Pembicara yang hadir diantaranya Letjen TNI (Purn) Slamet Supriadi, Direktur Institute Soekarno Hatta HM. Hatta Taliwang, Direktur Sabang Merauke Circle Dr Syahganda Nainggolan dan Kombes (Purn) Drs Didi Rochyadi Mangkupradja.
Ketua panitia pelaksana sekaligus Ketua Yayasan Ramangsa Inspirasi Indonesia, Maizal Alfian mengatakan, tujuan diselenggarakan diskusi kebangsaan ini atas dasar kegelisahan berfikir melihat Pancasila mulai dikikis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di kalangan pemuda dan mahasiswa.
“Agenda diskusi kebangsaan ini ingin membuat mahasiswa dan pemuda bisa mengetahui dan memahami sejarah kelahiran Pancasila, serta bisa mengimplementasikannya sebagai makhluk intelektual bukan hanya sekedar dongeng belaka,” kata Alfian sapaan akrabnya melalui siaran elektroniknya, Rabu (12/4).
Alfian berharap diskusi bulanan ini bisa tercapainya pemahaman dan keyakinan warga negara dalam mengenal Pancasila secara utuh bukan hanya asal-asalan.
Menurut Alfian, saat ini bangsa dan negara Indonesia terancam dua ideologi transnasional (ideologi lintas negara) yang tengah beroperasi secara terstruktur, sistematis dan masif, yaitu ideologi neoliberalisme (kapitalisme) dan fundamentalisme agama.
“Neoliberalisme atau bisa disebut kapitalisme masuk melalui propaganda nilai-nilai individualisme dan liberalisme sebagai pintu masuk menancapkan kepentingan kapitalisme global dengan sistem fundamentalisme pasar, salah satunya IMF,” terang Alfian.
Sementara ideologi fundamentalisme agama, masuk melalui doktrin dari suatu kelompok keagamaan yang sempit. Mereka ini masuk dengan mengeksploitasi kemiskinan dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dalam menyamakan hak warga negara. Mengajak orang-orang yang labil iman keagamaan dan rasa nasionalismenya untuk masuk dalam gerakan radikalisme mereka.
“Karenanya penanaman kembali nilai-nilai Pancasila melalui sosialisasi Empat Pilar, bisa menjadi upaya menangkal ancaman ideologi transnasional dengan diikuti gerakan pembudayaan Pancasila yang bisa bergotong royong oleh semua elemen,” pungkas Alfian (al).
Apa Komentar Kalian?