Prof. Jaenuri : Umat Islam itu Mudah Dipecah Belah!

independensi.id, Surabaya – Korps Alumni HMI (KAHMI) Komisariat Ushuluddin UIN Surabaya menggelar Halal Bi Halal dan Dialog di Hotel Elmi Surabaya (14/8/2016).

Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Majelis Daerah KAHMI Surabaya Dr.Taufiqurrohman, Majelis Wilayah KAHMI Jawa Timur Fauzi Hasyim, Mantan Anggota Dewan Fraksi PKB Taufiqurrahman Saleh.

Panitia pelaksana Halal Bi Halal KAHMI Ushuluddin,Hadi Ismanto, menyatakan rasa terima kasihnya atas kedatangan para alumni yang berkenan hadir dalam forum yang mengusung tema “Merajut Silaturrahmi dan Meneguhkan Komitmen Kaderisasi”.

“Mudah-mudahan forum ini akan bermanfaat bagi umat dan bangsa sebagaimana yang diinginkan oleh kita semua”ujar Hadi Ismanto dalam kata sambutannya.

Sementara itu, Prof.Dr.Ahmad Jaenuri selaku perwakilan KAHMI Ushuluddin menyatakan tentang pentingnya bagi kader HMI menjaga nilai akademisnya sebagai salah satu ciri dan karakter kader.

“Dunia dan aktivis akademik hendaknya menjadi pilar utama kader-kader HMI karena apapun profesi yang digeluti tak mungkin terlepas dari apa yang dipelajari. Ada dinamika yang terus menerus ditemukan dalam aktivitas kita nanya”ujarnya dengan penuh tekanan.

Prof. Jaenuri juga menambahkan hidupnya lagi “PANTAS” (Panca Kualitas). Sebuah wadah dan komunitas yang meng-create aktivitas sehari-hari untuk berdiskusi dan melakukan tukar pikiran. Dan semua anggota komunitas ini bisa keluar negeri untuk menempuh study di sana. Prof Jaenuri berharap tradisi ini bisa diteruskan.

Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu juga menyatakan bahwa kegiatan Halal Bi Halal Komisariat Ushuluddin UIN Surabaya lintas angkatan dan generasi ini mengingatkannya pada proses kaderisasi di HMI. Ia juga meminta agar setiap kader dan alumni HMI tidak memperkeruh suasana dengan ekstremitas dan kekakuan dalam berorganisasi.

“Walaupun Kyai Hasyim Muzadi menyatakan perlunya Ukhuwah Islamiyah,Ukhuwah Basyariyah, Ukhuwah Insyaniyah tapi kalau tak ada kesadaran masing-masing pada kita ya percuma”tuturnya.

Pada tahun 1988,Prof. Jaenuri memaparkan tentang adanya sebuah artikel di majalah The New York yang menyarankan bagi para pelaku bisnis yang ingin sukses menjalankan roda bisnisnya di Indonesia maka harus mendekati dua kelompok ‘Hijau’.Yaitu kelompok militer (dalam hal ini AD) dan kelompok Umat Islam.

“Di Indonesia, tak ada kekuatan selain yang dimiliki dua itu. Maka tak heran,bila militer menguasai Indonesia. Sedangkan kelompok Hijau yang satunya kerap jadi bulan-bulanan dan mudah dipecah belah. Dan kita akan selalu dijadikan sasaran dalam rangka memperjuangkan kelompok kepentingan. Karena secara global, kita punya kekuatan, maka kita berusaha untuk dihabisi”tegasnya.

Sedangkan Presidium KAHMI Surabaya Dr. Taufiqurrohman menyatakan perlunya melakukan konsolidasi guna menyatukan kekuatan yang ada di mana-mana.

“Majelis Daerah KAHMI Surabaya juga melakukan kajian atas isu-isu strategis di Indonesia serta memberikan masukan-masukan untuk Pemkot untuk mengawal Pembangunan di Surabaya”ujarnya.

Presidium KAHMI Surabaya itu juga meminta agar silaturahmi ini tidak semata-mata silaturrahmi fisik, melainkan juga harus silaturahmi emosional, dan intelektual.

“Tujuannya adalah demi mempererat komitmen,eksistensi keislaman dan ke-Indonesia”tutupnya (Shofa)

Apa Komentar Kalian?