Peran Perempuan Pada Ketahanan Pangan Keluarga

Habis Gelap Terbitlah Terang, merupakan terjemahan bahasa Melayu dari buku Kartini yang berjudul Door Duisternis tot Licht yang artinya Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Buku tersebut adalah kumpulan surat- surat Kartini yang dikirimkan ke sahabatnya Rosa Abendanon Mandri di Eropa. Yang kemudian diterjemahkan oleh sastrawan Armijn Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang berisi lima bab cara berpikir Kartini, serta sejarah perjuangan Kartini yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi namun dilarang oleh orang tuanya. Alasannya, usia Kartini (12 tahun) sudah saatnya untuk dipingit dan menikah.

Maklum, Kartini lahir dari keluarga priyayi. Ayahnya seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara. Sedangkan ibunya seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Jika diurutkan secara silsilah keluarga ayahnya, maka keluarga Kartini yang dari nasab ayahnya merupakan trah keturunan dari Sultan Hamengkubuwono ke IV, keluarga keturunan Sosroningrat dari silsilah kerajaan Majapahit. Itu adalah sekelumit cerita tentang RA.Kartini dan perjuangannya di masa lampau. Hari ini saya tidak akan bercerita banyak tenang kisah RA Kartini, karena hampir di seluruh belahan nusantara tengah bercengkerama tentangnya.

Saya akan mencoba menggeser sedikit cerita tentang Kartini ke dalam sebuah fenomena yang tidak kalah jauh pentingnya. Karena hari ini kita tidak lagi sulit terkungkung dengan budaya kolot keluarga, yang di usia 12 tahun kita sudah diwajibkan menikah seperti Kartini. Kita tengah menikmati berbagai macam akses kehidupan yang jauh lebih baik pada hari ini. Kebebasan untuk berorganisasi dan beraktualisasi diri dengan sebaik mungkin. Tak ada lagi rasa takut untuk tidak bisa mengenyam pendidikan perguruan tinggi, kita juga bebas memilih di bidang mana kita akan berkarir dan dengan siapa kita akan menikah.

Apa kemudian yang juga lebih fundamental ?. Hal itu adalah ketahanan pangan yang pada tingkat rumah tangga itu sekedar punnya jaminan akses untuk mendapat cukup makanan setiap waktu. Berdasarkan hasil dari Konferensi Food and Agriculture Organization (FAO) World Food Summit tahun 2006, yang menyebutkan bahwa ketahanan pangan sebagai akses setiap rumah tangga atau individu untuk memperoleh pangan setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat dengan persyaratan penerimaan pangan yang sesuai dengan nilai-nilai atau budaya setempat.

Krisis cabai dan beberapa komoditas lainnya menjelang bulan Ramadhan sangat dirasakan oleh kaum perempuan terutama ibu rumah tangga. Anggaran sebulan yang biasanya memenuhi kebutuhan pokok anggaran belanja untuk dapur tetap ngepul, bisa berkurang karena harga cabai dan beberapa komoditas lainnya sangat melonjak drastis

Dari proses awal produksi pangan  tak sedikit tangan Kartini (red:perempuan) menjadi penentu keberhasilan penanaman hingga tiba masa panen. Pada tingkat ASEAN, data FAO tersebut menunjukkan Indonesia menempati posisi kedua setelah Thailand dengan prosentase 54% jumlah perempuan yang bekerja di bidang produksi pangan (FAO,1995). Angka tersebut disayangkan hanya menempatkan  perempuan sebagai buruh tani, buruh perkebunan.

Dalam posisi tak menguntungkan ini, negara terkesan abai dan mempersalahkan mekanisme pasar. Padahal arah kedaulatan pangan, apakah menjadi komoditas hidup orang banyak ataukah komoditas politik dengan posisi tawar fantastis ada di tangan negara sepenuhnya. Operasi Pasar (OP) dan Swasembada pangan belum mampu mengontrol harga bahan pokok dan kebutuhan pangan sehari-hari.

Berdasarkan hal ini, berapa banyak orang Indonesia yang mengalami ketidaktahanan pangan?. Jawaban sederhananya adalah setiap orang berada di bawah garis kemiskinan. Seseorang dianggap berada di bawah garis kemiskinan jika tidak punya sumber daya yang cukup untuk 2.100 kalori per hari (menurut data Puspenas, rata-rata konsumsi kalori perkapita di Indonesia tahun 2012).

Di Indonesia, ketidaktahanan pangan bukan disebabkan oleh kurangnya persediaan jumlah bahan pokok melainkan kualitas dan pemberdayaan peran perempuan dalam sektor ketahanan pangan.Banyak keluarga, entah karena miskin atau kurang pengetahuan bayi dan anak, terancam mengalami malnutrisi.

Segala kebijakan mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan hingga pertanggungjawaban harus benar-benar menjamin kesejahteraan rakyat. Dalam hal ini memberikan akses sebesarnya-besarnya bagi perempuan dalam produksi, distribusi dan pengolahan pangan. Selain itu juga memperbesar kesempatan perempuan untuk mengikuti pelatihan/penyuluhan pertanian serta meniadakan segala bentuk marginalisasi perempuan tani dalam kebijakan, regulasi dan tindakan nyata.

Sudah saatnya kita berhenti memperdebatkan  pernyataan Menteri Pertanian ( Mentan) Andi Amran Sulaiman yang mengatakan bahwa pemerintah akan berupaya anggaran sebanyak Rp 100 Miliar digunakan untuk infrastruktur kebun bibit cabai dan sayuran. Saatnya kini memanfaatkan potensi lahan pekarangan yang ada di indonesia yang mencapai 10,3 juta hektar.

Bila lahan tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal, kita semua wajib optimis dapat menyelesaikan permasalahan kenaikan harga secara masif. Beberapa komoditas selain cabai seperti beras, jagung, sayur dan buah-buahan tertentu yang memanfaatkan pekarangan rumah tangga. Tidak hanya itu, apabila memungkinkan pekarangan rumah tangga juga bisa untuk pengembangan ayam petelur atau tambak perikanan yang digunakan untuk konsumsi sendiri atau dijual.

Meskipun terlihat sangat sepele, tapi jika dilakukan dalam gerakan massal, penulis yakin dan percaya, kita bisa mandiri mengurus ketahanan pangan keluarga dengan baik. Bukankah meningkatkan ketahanan pangan adalah upaya kita sebagai perempuan dalam menangani kemiskinan? Bukankah meningkatkan ketahanan pangan, kita juga telah berkontribusi terhadap perbaikan gizi anak dan saudara kita? Juga turut memberikan hak atas kesehatan? Bukankah demikian juga yang diinginkan oleh Kartini?. Dari itu, berpijarlah hingga terang, Kartini kini dan nanti (*).

Anggi Husain

*Penulis adalah Pengurus Kohati PB HMI 2016-2018 dan Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang.

 

Apa Komentar Kalian?