Negara, Pemodal, dan Karya Anak Bangsa

Oleh : Ikhsan Yosarie

(Kader HMI Cabang Padang, Komisariat ISIP Universitas Andalas)

Karya anak-anak Indonesia tidak kalah dengan karya anak-anak dari luar negeri. Dalam beberapa kontes tentang teknologi skala Asia atau bahkan dunia, tidak jarang justru anak-anak Indonesia-lah yang menyabet gelar juara. Misalnya prestasi M. Alfarisi dan Asep Muhammad yang berhasil mendapat penghargaan spesial dari kompetisi International Exhibition for Young Inventors (IEYI) di China.

Duo siswa SMKN 2 Cimahi ini mendapat penghargaan atas temuan Flood Migitation System. Penemuan alat temuan mereka yang bernama SIMINA Banjir (Sistem Navigasi Bencana Banjir) ini berfungsi untuk menginfokan level ketinggian air sungai dan memberitahukan kepada masyarakat bila banjir akan terjadi (Detik.com/22/7/2016). Kemudian juga ada temuan alat pendeteksi longsor karya Teuku Faisal Fathani. Temuan peneliti dari UGM ini masuk dalam 20 karya unggulan teknologi anak bangsa yang dirilis Kemeristek Dikti (Liputan6.com, 11/05/2016).

Jika kita buat list, akan tampak begitu banyaknya anak-anak Indonesia yang menorehkan prestasinya lewat karya. Bahkan karyanya telah diakui secara internasional. Namun yang menjadi persoalan adalah, setelah itu apa? Apakah karya-karya tersebut hanya untuk perlombaan? Bagaimana negara memanfaatkannya? Disinilah pemerintah harus mengambil perannya. Jangan sampai karya anak bangsa diakui oleh negara luar, tetapi diacuhkan di dalam negeri.

Penguatan pendidikan vokasi tidak bisa berjalan sendiri. Ia harus di topang dengan dukungan dari pemerintah untuk setiap aspek kegiatan peserta didik dalam pendidikan vokasi tersebut. Dukungan itu tidak hanya dalam bentuk dana pembinaan, tetapi juga kelengkapan fasilitas pendukung, dan yang terpenting adalah political will untuk pengembangan karya anak bangsa. Karena pendidikan vokasi akan melahirkan generasi-generasi yang memiliki karya dan softskill. Sehingga pemerintah harus mampu membaca situasi dan kondisi, semisal lapangan pekerjaan dan pengembangan karya mereka.

Pemberdayaan masyarakat merupakan tanggungjawab bersama, dan pemerintah berada di garda terdepan. Mendukung karya anak bangsa bukan hanya dari output berupa karyanya saja, tetapi dimulai dari awal. Dalam prosesnya, pemerintah ibarat ibu yang memperhatikan anak-anaknya dalam belajar. Dalam hal pembangunan, kita arahkan kepada pembangunan partisipatif. Masyarakat dalam hal ini berpartisipasi sesuai dengan keilmuannya, dan berkarya untuk kemajuan bangsa.

Pendidikan vokasi membuat peserta didik mengeksplore bidang keilmuannya, misalnya di bidang Sains ataupun ilmu-ilmu sosial. Dan akan besar kemungkinan peserta didik menghasilkan sesuatu yang baru, apakah temuan dalam sains atau teori-teori sosial. Hak paten adalah sesuatu yang harus di perjuangkan pemerintah untuk dimiliki anak tersebut. Political will pemerintah akan kita lihat disini, apakah mendukung karya anak bangsa, atau acuh?

Beranikah?

Persaingan di era industri mengharuskan suatu negara memiliki generasi muda yang kreatif, inovatif, dan produktif. Pemerintah menjadi tameng untuk generasi muda, misalnya melindungi karya anak-anak muda, atau membatasi segala sesuatu yang datang dari luar Indonesia, baik berupa materi atau non-materi, dan yang terpenting memberdayakan generasi mudanya. Oleh karena itu, saya menekankan pada political will dari pemerintah untuk bertindak. Kepentingan yang bermain disini semata hanyalah kepentingan negara, bukan kelompok A atau kelompok B.

Jika temuan-temuan anak bangsa hanya sebatas untuk perlombaan, asas kebermanfaatannya tidak akan maksimal, malah akan menimbulkan kerugian bagi negara Indonesia. Kenapa rugi? Bisa di bayangkan jika temuan anak bangsa tersebut dibeli hak patennya oleh negara lain, atau tidak terpakai lagi setelah perlombaan selesai. Semestinya pemerintah bisa mendukung pengembangan atau mengembangkannya guna kebutuhan bangsa. Kita tentu masih ingat dengan mobil Esemka, mobil listrik, teknologi peringatan atau pendeteksi banjir dan longsor, serta masih banyak temuan atau karya anak bangsa yang status dan kabarnya dipertanyakan.

Misalnya teknologi pendeteksi banjir dan longsor tadi. Duo temuan teknologi ini akan sangat bermanfaat jika dikembangkan. Banjir dan longsor menjadi bencana alam yang cukup sering terjadi di Indonesia, dan menimbulkan korban jiwa. Memanfaatkan alat ini tentu akan meminimalisir korban jiwa, dan mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan lainnya. Untuk mengembangkan dan memperbanyak produksinya, anak-anak bangsa tentu membutuhkan dukungan pemerintah dari segala aspek.

Beranikah pemerintah melawan dominasi pemilik modal dalam hal karya? Di sini letak titik simpulnya. Mandeknya dukungan pemerintah terhadap karya anak bangsa karena ketidakmampuan pemerintah dalam hal ini. Seringkali temuan-temuan anak bangsa mengancam teknologi yang berasal dari pemilik modal. Misalnya mobil Esemka dan mobil listrik tadi. Karena jika kedua mobil tersebut dikembangkan, maka industri pemilik modal akan terancam. Mobil Esemka yang dahulu diwacanakan menjadi mobil nasional, atau mobil listrik sebagai teknologi ramah lingkungan.  

Kemampuan pemerintah dalam melawan dominasi para pemilik modal akan merepresentasikan berdikarinya Indonesia. Dengan jaminan dukungan dari pemerintah, anak-anak Indonesia semakin bergairah dalam hal teknologi dan ranah ilmiah lainnya. Sementara, semakin lama pemerintah tarik-ulur kepentingan dengan pemodal, dan ketiadaan dukungan terhadap karya generasi muda, berakibat mati surinya gairah generasi muda untuk berkarya, dan kemudian hilang. Anak-anak muda kita tidak menjadi inovatif, namun tetap menjadi konsumen. Padahal dalam persaingan di era global, Sumber Daya Manusia adalah ujung tombaknya. Sementara generasi muda menjadi lokomotif penggeraknya.

Dan yang terakhir, jangan sampai temuan-temuan anak bangsa ini dipolitisasi atau dijadikan alat politik. Misalnya dijadikan janji politik oleh seorang calon kepala daerah atau calon legislatif untuk kampanye. Mendukung karya anak bangsa tidak layak dipolitisasikan, karena ini menyangkut kemajuan bangsa. Ranah politik tidak cocok untuk dijadikan tempat pengembangan karya anak bangsa ini. Karena pendidikan vokasi, yang notabene menjadi cikal bakal temuan ini lahir, diadakan dan diperkuat untuk kemajuan bangsa, serta mengasah generasi-generasi muda bangsa agar mampu bersaing dengan negara lain. Dan untuk skala yang lebih luas, upaya ini menjadi salah satu upaya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (*).

 

Apa Komentar Kalian?