Merawat Alam untuk Generasi Bangsa

Oleh: MAULUDDIN

(Anggota HMI Cabang Padang dan aktif di Komunitas Suka Indonesia)

FB_IMG_1442750788601

Lestari Alamku Lestari Desaku//Dimana Tuhanku Menitipkan Aku

Nyanyi Bocah Bocah Dikala Purnama //Nyanyikan Pujaan Untuk Nusa

Damai Saudaraku Suburlah Bumiku //Kuingat Ibuku Dongengkan Cerita

Kisah Tentang Jaya Nusantara Lama (Gombloh; Lestari)

Mungkin ini  hanya sebatas lirik lagu yang disenandungkan oleh penyanyi lawas Gombloh sebagai warisan kepada anak cucu kita bahwa Negeri ini dulu punya alam yang penuh kaya raya, padi menguning luas seperti hamparan emas yang menyejukkan mata, hutan lebat penghasil oksigen cuma cuma sebagai paru paru dunia, aliran sungai jernih tempat bermain, bergelut dengan ikan ikan dikala kecil dulu sewaktu sepulang sekolah. Semua itu hanyalah sebagai bahan dogeng bagi anak cucu kita, ketika menghabiskan hari tua kita nanti.

Sementara generasi kita sekarang hanya bisa mengeksploitasi kekayaan alam yang ada, tanpa memikirkan anak cucu kita kelak bahkan kekayaan alam ini bukanlah warisan berupa harta pemberian nenek moyang kita, tetapi merupakan warisan penjagaan dan perawatan alam yang sudah ada, kemudian diberikan kepada kita. Kemudian, mungkin akan kita wariskan berupa kerusakan untuk anak cucu kita.

Semua kerusakan dalam bentuk apapun yang ada, sudah kita rasakan sendiri dampaknya. baru baru ini masih segar dalam ingatan kita, bahkan belum hilang bekas air dinding dinding rumah masyarakat Pangkalan 50 kota yang dilalui air yang volumenya sangat besar, dari hutan yang dieksploitasi  menjadi lahan pertambangan oleh pengusaha pengusaha. Dari Data Informasi Bencana alam Indonesia (DIBI), pada periode 2011 sampai 2016 sebanyak 462 kejadian bencana. Banjir menjadi peristiwa terbanyak dengan 135 kejadian, disusul tanah longsor 111 kejadian, angin puting beliung  99 kejadian dan 16 kejadian bencana banjir disertai tanah longsor.

Semua itu ulah tangan kita, lalu siapa siapakah kita itu ? masyarakat, korporasi atau para pengusaha yang dibelakangnya ada membackingi dan pemerintah, dengan mudahnya memberikan izin. Berdasarkan data Dinas ESDM Sumatera Barat, terdapat 278 usaha pertambangan di Sumatera Barat. Sebanyak 153 Izin Usaha Pertambangan (IUP) diantaranya dinyatakan belum memenuhi persyaratan, administratif,kewilayahan, teknis, lingkungan dan keuangan. Sebagai generasi sekarang tentunya mempunyai tanggung jawab besar dengan keadaan sekarang dan untuk generasi selanjutnya,rasa ketakutan untuk meninggalkan generasi sekarag menjadi alasan bagi semua untuk memperbaikinya. semuanya harus mengambil peran masing masing baik masyarakat, para pegiat lingkungan, mahasiswa (intelektual), korporasi dan pemerintah.

Masyarakat dengan segelumit permasalahan ekonomi yang ada, mata pencarian yang tidak ada dan modal usaha tidak punya, menjadikan mereka membuka tambang masyarakat dengan mengenyampingkan keselamatan begitupun kerusakan alam. Menambang di bantaran sungai dengan menggunakan mesin kompresor kemudian limbah akan  mencemari, air sungai yang menjadi kebutuhan masyarakat tersebut akan dikonsumsi, sehingga bibit penyakit pun berkembang dimasyarakat.

Begitupun dengan masalah korporasi yang masuk, masyarakat harus selektif meskipun diiming iming imingi dengan kesejahteraan masyarakat setempat. Pada akhirnya masyarakat hanya mendapatkan kotoran/bekas tambang dan meninggalkan kubangan besar akibat belalai besi korporasi. Masyarakat harus sadar itu dengan kenikmatan yang dijanjikan dan sesaat, menjadikan anak cucu kita mennderita. Masyarakat yang sadar akan pentingnya lingkungan dan kurangnya memahami, bisa bekerja sama dengan para pegiat lingkungan, apabila para korporat-korporat tersebut masuk di tengah masyarakat untuk membuka lahan tambang tersebut.

Para Pegiat Lingkungan/LSM. Para pegiat lingkungan yang berada pada barisan masyarakat harus tetap teguh terus berusaha mengadvokasi masyarakat yang terdzalami oleh korporasi yang menjajikan kesejahteraan, kemudian tetap menyuarakan kepada pemerintah. Dan terus berusaha memberikan edukasi kepada masyakat tentang pentingnya peduli lingkungan dan mengoptimalkan para komunitas komunitas dan bekerja sama dengan LSM yang ada.

Mahasiswa (Intelektual) .Sebagai kaum intelektual seharusnya menanamkan kesadaran diri terlebih dahulu akan pentingnya peduli lingkungan dan  bisa menjadi agen memberikan education kepada masyarakat. memulai hal kecil dari diri, keluarga dan masyarakat.membuang sampah pada tempatnya contoh hal kecil yang sudah hilang tentunya sebagai kaum intelektual tahu betul dampak dari membuang sampah sembarangan, merupakan salah satu indikasi penyebab banjir. Di mana dengan membuang sampah sembarangan, maka got got ataupun sungai akan penuh dengan sampah dibawa air, sehingga sampah tertumpuk dan aliran air terhalang begitupun air yang ada akan terhalang menyerap ketanah karena sampah sehingga air melimpah ke permukaan dan lama lama kelamaan mengakibatkan banjir, memulai pada diri dan mengkampanyekan mengurangi pemakaian kemasan plastik pada saat kita membeli sesuatu diwarung warung merupakan salah satu wujud kepedulian kepada lingkungan karena dengan cara tersebut kita telah mengurangi menumpuknya sampak plastik yang susah diurai.

Dari itu, kelompok aktivis mahasiswa selayaknya jangan hanya sibuk meminta sumabangan disudut lampu merah dan keramaian ketika terjadi bencana, tetapi alangkah baiknya juga mengkaji asal hulu terjadinya membacana tersebut, kemudian memberikan educati penting peduli lingkungan kepada masyarakat

Pemerintah sebagai yang memeberikan izin haruslah lebih selektif dan terlebih dahulu mengkaji leih dalam dampak daampaknya, jangan hanya mengkaji teknis dan keuangan,kemudian awalnya menjanjikan mensejahterakan rakyat dan ujung ujungnya menyengsarakan rakyat.

Dari data yang ada tentunya pemerintah dengan mudahnya memberikan izin usaha tambang yang ada dengan banyaknya tambang tidak memenuhi persyaratan administratif, kewilayahan, teknis, lingkungan dan keuangan. Kemudian  pemerintah dengan kekuatan yang dimiliki harus bisa membuat kebijakan akan kepedulian lingkungan. Sepertin halnya salah satu contoh yang dilakukan Ridwan Kamil di Kota Bandung dengan melarang para penjual jajanan dan lain lain untuk menggunakan stairpoam dalam bungkus atau kemasan makanan karena Ia sadar, indikasi banjir disana salah satu penyumbangnya sampah stairpoam tersebut

Kepolisian sebagai penegak hukum harapan masyarakat untuk pelindung dan pengayom haruslah merespon cepat dengan aktivitas aktivas ilegal yang ada tanpa harus menunggu laporan masyarakat ataupun bencana terlebih dahulu dan harus berani mempidanakan korporasi tanpa tebang pilih baik korporasi sekaligus pejabat dan korporasi individu.

Ketika semua komponen yang ada telah mengambil peran masing masing, maka alam yang  rusak saat ini, sedikit demi sedikit akan membaik sehingga keseimbangan alam terjaga dan memberikan manfaat begitu besar bagi kita, karena segala sesuatu yang ada pada alam ini sudah ada kadarnya hanya saja kita yang serakah mengelolanya. Air hujan itu turun sudah sesuai kadarnya untuk turun kebumi hanya saja daun, akar pohon tempat yang dilaluinya tidak ada lagi makanya air turun langsung kebawah,sehingga mengakibatkan banjir, longsor dan menghancurkan pemukiman masyarakat (*).

 

Apa Komentar Kalian?