Larang Organisasi Ekstra di UIN Ciputat, Warek III Dinilai Otoriter

independensi.id, Jakarta – Wakil Rektor (Warek) III UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Yusron Rozak, dianggap keliru oleh sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Ciputat. Kebijakan rektorat atas dikeluarkannya surat keputusan larangan organisasi ekstra untuk beraktivitas di kampus, dinilai tidak mencerminkan pemimpin.

Kader Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Dakwah dan Komunikasi Cabang Ciputat, Melqy Mochamad, menilai, kebijakan pelarangan tersebut tanpa ada ruang dialog dengan mahasiswa.

“Ruang dialog harusnya dibuka seluas luasnya oleh pihak kampus. Dialog merupakan identitas pelajar, adanya organisasi ektra dalam kampus justeru menjadi pendorong dan terawatnya nilai-nilai perjuangan dalam mahasiswa”. Ujar Melqi melalui press releasnya, Rabu (14/09/2016)

Lebih lanjut ia menjelaskan, pihak rektorat harus paham, proses sosial kultural pembelajaran mahasiswa di kampus UIN Jakarta, di bentuk dari pembelajaran dan dialog di organ ekstra.

“Adanya perselisihan antar organisasi ektra itu tak lepas proses reflekasi atas cara berpikir yg pada kenyataanya hampir tujuannya baik, pelarangan simbol itu sama saja perjungan simbolik di sisi lain” jelasnya

Selain itu, rektorat juga dalam setiap mengambil kebijakan dinilai, tidak mencerminkan pimpinan kampus.

“Kebijakan yang diambil nyatanya tidak mencerminkan pimpinan memanfaatkan otoritasnya kurang tepat, di saat kampus UIN sendiri semakin hari dipertanyakan kualitas hasil belajarnya dan daya nalar kritisnya” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh, mahasiswa perbandingan agama, Deni Iskandar, menuturkan pelarangan organisasi ekstra, untuk beraktifitas di kampus, dinilai sewenang-wenang, dan otoriter.

“Kebijakan Rektorat, sangat jauh diluar nalar, saya aneh dengan kebijakan Warek III, bagaimana cara berpikirnya, ko seperti Soeharto,” terangnya

Selain itu, Deni juga menilai, pelarangan organisasi ekstra di kampus, adalah salah satu langkah rektorat membunuh ratusan aktifis, dan menciptakan mahasiswa seperti robot.

“Inikan sudah jelas, larangan organ ekstra di kampus, adalah salah satu pembunuhan karakter bagi aktivis, rektorat ini tidak mau di kritisi, dan cara berpikirnya pun sudah seperti Orde Baru”. Jelasnya

Kalau memang Rektorat itu, punya nalar, lanjut, Deni, berikan penjelasan kepada kami semua mahasiswa, kenapa harus ada pelarangan organisasi ektra di kampus.

“Kalau memang Warek III merasa akademis, mari kita diskusi, kenapa harus ada organ ekstra di kampus, baik HMI, PMII, IMM, GPPI, GMII, GMNI, dan seterusnya, itu sudah membesarkan nama UIN Jakarta,” pungkasnya (dzul)

Apa Komentar Kalian?