Kekayaan Budaya Madura Menguatkan Fondasi Madura

Judul               : Merawat Madura Melalui Modal Budaya

Penulis             : Kumpulan tulisan mahasiswa dan dosen

Penerbit          : Your – B Pers

Tahun Terbit    : November 2016

Tebal               : 348 halaman

MADURA, secara geografis dibagi menjadi dua bagian, yakni bagian barat dan timur. Madura bagian barat meliputi Bangkalan dan Sampang, serta timur meliputi Pamekasan dan Sumenep. Perbincangan Madura dikancah luar Madura tidak terlepas dari pelbagai stereotip bahwa suku Madura adalah suku yang keras, berwajah sangar dengan kumis melintang tebal, dan bahkan juga dikenal dengan celurit dan carok.

Padahal saat mengkaji Madura dengan pendekatan etnografi banyak budaya Madura yang menunjukkan bahwa suku Madura tak se-negative itu. Budaya Madura banyak mengambil dari ajaran-ajaran Islam sebagaimana hal ini dicerminkan dalam budaya Adheb Ashor.

Adheb Ashor merupakan sikap yang mencerminkan sifat ketawaduan dan rendah hati. Nilai-nilai budaya ini dijunjung tinggi sebagai nilai etika yang mulia dalam kehidupan masyarakat Madura. Yang tua menghargai yang muda dan yang muda menghormati yang tua. Nilai ini ditanamkan sebagai bentuk penguatan terhadap struktur sosial masyarakat yang beradab dan berkehidupan pada nilai-nilai agama (hla. 42).

Peradaban yang demikian dapat ditemukan dalam satu prinsip ketaatan Bupa’ Babu’ Guru Rato, dalam pengertiannya suku Madura memiliki acuan kepatuhan yang hirarkial terhadap sosok figur-figur utama tersebut. Bila hal ini dilanggar, maka mendapatkan konsekuensi sanksi sosial maupun kultural.

Dipandang penting untuk terus menjaga keharmonisan struktur sosial masyarakat Madura ditengah kompleksitas implikasi arus globalisasi. Tak dapat kita elakkan lagi bahwa dengan derasnya arus teknologi informasi yang canggih itu membawa kenyamanan, kemudahan, dan hal positif lainnya. Tapi di sisi lain teknologi juga membawa dampak negatif yang begitu besar, bahkan mampu menciptakan budaya instan yang pada akhirnya akan menenggelamkan budaya-budaya positif menjadi pembiayasaan yang buruk pada sikap, sifat, maupun perilakunya.

Dengan demikian, peran pendidikan dalam kasus ini sangat dieperlukan dan bahkan ini akan menjadi tonggak utama penyelamatkan dan perawatan budaya Madura sejak dini. Dalam dunia pendidikan ditawarkan sebuah kurikulum yang dirasa bagus diterapkan untuk merawat dan menyelamatkan kabudayaan, yakni kurikulum schooling hidden. Kurikulum yang bersifat fleksibel dan tidak mengikat ini bisa diambil manfaatnya berupa provide support and instruction by describing social cues and appropriate responses to social behavior and teaching new social skill (hlm. 247).

Yakni menyiapkan dukungan dan instruksi untuk menyiapkan siswa agar tanggap menghadapi persoalan-peroasalan atau kondisi sosial dengan kemampuan (keahlian: membaca, memahami, dan memberi ide) baru yang bersifat sosial. Kemampuan lain yang diharapkan adalah kesadaran diri sendiri yang tumbuh secara optimal dimana siswa mampu mengukur perbuatannya sendiri (salah atau benar dalam pandangan umum) hingga akhirnya mampu memperbaiki diri.

Disamping penguatan skill dalam menghadapi dinamika sosial juga dipadang penting untuk melestarikan dan mengimplementasikan bahasa Madura itu sendiri. Melihat fenomena di Madura itu sendiri sudah hampir tidak digunakan lagi dengan beberapa alasan.

Pertama, bersumber pada penggunaan bahasa Madura, yaitu sikap dan kemampuan orang Madura terhadap bahasanya kurang mendukung. Bahkan, dalam kehidupan rumah tangga, utamanya bagi pasangan keluarga muda, bahasa Madura seringkali tidak lagi menjadi bahasa pertama. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi pertama dalam keluarganya.

Kedua, bersumber pada situasi dan kondisi pembelajaran bahasa Madura yang kurang kondusif. Bahkan, sebagai mata pelajaran di sekolah pun bahasa daerah mempunyai kedudukan yang kurang kuat (hlm. 175). Dengan mengkaji permasalahan ini lagi-lagi pendidikan dibutuhkan sebagai wadah untuk membina dan pengembangan bahasa Madura. Sebab, upaya pembinaan bahasa Madura merupakan ikhtiar yang obyektif guna memperkaya bahasa nasional dan memperkuat kedudukannya sebagai bahasa pemersatu bagi pemakainya dalam pergaulan umum dan dalam mengejar kemajuan umum.

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam mendukung suksesnya proses dan mutu pendidikan (penguatan berbahasa Madura di sekolah) adalah guru. Realita saat ini yang menjadi penghambat peningkatan pembinaan bahasa Madura di sekolah adalah guru. Rata-rata guru bahasa Madura disekolah (SD dan SMP) tidak mempunyai spesialisasi dan kualifikasi kompetensi mengajar bahasa Madura (baik kualitas keilmuan dan kualitas cara mengajar). Sebagian dari mereka kebanyakan guru-guru yang rangkap  mata pelajaran, kepala sekolah, guru agama, atau guru olah raga yang ditunjuk untuk mengisi mata pelajaran bahasa Madura.

Maka, dalam rangka penyelamatan nilai-nilai budaya dan bahasa Madura, guru-guru hendaknya direvitalisasi. Upaya semacam ini hendaknya dilakukan sebelum dan sesudah mendapat jabatan guru.

Pendidikan prajabatan dapat dikembangkan dengan membuka jurusan bahasa Madura atau menambah Satuan Kredit Semester (SKS) untuk jurusan tertentu di perguruan tinggi atau Universitas. Upaya semacam ini merupakan risalah hasil kongres budaya di Sumenep dan Pamekasan yang menekankan untuk dapatnya dibuka jurusan bahasa Madura diperguruan tinggi di Madura. Di STAIN Pamekasan pada prodi Tadri Bahasa Indonesia mengembangkan matakuliah keahlian bahasa Madura sebanyak 8 SKS. Universitas Madura melekatkan mata kuliah bahasa Madura pada FKIP Bahasa Indonesia sebanyak 18 SKS sebagai mata kuliah keahlian. Hal ini merupakan pelestarian kearifan lokal Madura di perguruan tinggi (hlm. 181).

Masih dalam pembinaan bahasa ibu, yakni bahasa Madura tidak hanya diperlukan peran pendidikan. Peran orang tua dalam hal ini juga menjadi bagian penting untuk mempertahankan dan melestarikan bahasa Madura terutama bagi keluarga yang kawin campur Jawa-Madura. Akankah bahasa Madura masih tetap terawat jika dihadapkan dengan fenomena seperti ini? Al-hasil dari penelitian yang dilakukan Laili Amalia dalam buku ini adalah mempertahankan bahasa Madura masih jauh dari apa yang menjadi harapan suku Madura, yang disebabkan kurangnya kesadaran dari individu yang menybabkan upaya ini sulit dilakukan. Bilingualisme juga menjadi sebab persaingan penggunaan bahasa, penggunaan bahasa Indonesia mendapatkan status lebih tinggi dari pada penggunaan bahasa Madura. Bahasa Madura baru digunakan saat barbicara dengan teman atau saudara sesuku untuk menunjukkan identitas dan kedekatan hubungan antara partisipan dengan interloktor.

Menjadi sebuha harapan besar bagi keluarga kawin campur dapat mengenalkan dan menggunakan bahasa Madura melalui anak keturunannya. Pengenalan dan penggunaan bahasa Madura tidak hanya dilakukan melalui komunikasi sehari-hari, namun juga dapat dilakukan melalui membaca cerita berbahasa Madura yang saat ini mulai ada di koran atau majalah. Keluarga juga dapat menemani anak menonton acara yang menggunakan bahasa Madura. Pula diajak untuk mencintai budaya Madura sehingga timbul rasa bangga berbahasa Madura (hlm. 81).

Terlepas dari budaya Adheb Ashor yang merupakan bentuk budaya yang lebih bersifat nge-daging bagi suku Madura, disisi lain ada budaya Madura yang lebih bersifat arsitektur yang berwujud Tanean Lanjheng. Tanean Lanjheng merupakan suatu bentuk pemukiman yang dibentuk berdasarkan suatu sistem kekerabatan atas unsur genetik dimana bangunannya dibangun berjejer dengan halaman (Tanean) yang cukup luas dengan formasi memanjang (Lanjheng) dan dibagian ujung barat terdapat Mushollah (Kobhung/Langgher).

Nilai-nilai budaya yang terdapat dalam arsitektur bangunan ini dimana seorang perempuan mendapatkan perlindungan ekstra dari keluarga laki-lakinya. Para perempuan atau anak perempuan pada hunian ini jika tidur ditempatkan didalam rumah sedangakan anak laki-laki biasanya setelah lepas dari umur tujuh tahun tidur di Langgher. Langgher/kobhung disini selain menjadi tempat beribadah juga menjadi tempat pewarisan nilai-nilai, menerima tamu laki-laki, tempat tidur anak laki-laki, tempat menjaga keamanan keluarga, dan sebagai tempat keperluan lain (hlm. 259).

Meski secara fisikli tanean lanjheng sudah hampir tidak ditemukan, tetapi nilai-nilai kekerabatan tradisionalnya yang mendasari arsitektur tanean lanjheng tersebut masih melekat kuat. Dengan kata lain dapat dirumuskan bahwa ranah sistem nilai sebuah budaya dapat tetap hidup meskipun pengungkapan materialnya mengalami perubahan dengan cepat (hlm. 61).

Tata nilai yang terdapat dalam tanean lanjheng pun tidak ikut punah bersama material-materialnya. Misalnya tata nilai yang digunakan sebagai ruh pengelolaan keuangan usaha keluarga Madura, seperti: (a) rampak naong beringin korong, menurut masyarakat tanean lanjheng merupakan sebuah makna yang mengajarkan manusia peduli terhadap sesama. Gambalngnya orang kaya (kuat), harus bisa menjadi tempat bergantung dan berteduh bagi orang miskin (mustad ‘afin). (b) Mon Adhagang, Adhaging terjemahan bebasnya siapa yang berdagang akan memperoleh hasil.

Buku dengan desain sampul yang sejuk dipandang ini akan menemani wisata intelektual para pembacanya dengan penuh semangat dan sangat membudaya. Meski dalam perjalanannya pembaca akan menemukan sedikit salah ketik pada penulisan, yang hal ini harus menjadi perhatian bagi tim penyusun dan editor untuk penerbitan buku selanjutnya. Selebihnya dari  itu untuk pembaca selamat membaca dan selamat menikmati.

Peresensi         : Imron Maulana

(Mahasiswa Pendidikan Agama Islam STAIN Pamekasan  dan Direktur Pelatihan dan Pendidikan LAPMI Cab. Pamekasan)

Apa Komentar Kalian?