Kartini, antara Kebebasan dan Pengabdian

Raden Ajeng Kartini adalah sosok yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan karena pikiran dan pandangannya mengenai emansipasi wanita. Karena gagasan tentang emansipasi itulah Kartini ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasional. Meski pada akhirnya harus rela menanggalkan prinsip idealismenya dengan menjadi seorang Raden Ayu yang diperistri oleh Adipati Rembang. Ketika kartini mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Batavia, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya.

Ini bukan bentuk penyerahan Kartini, ataupun inkonsistensi terhadap prinsip hidup yang dipegangnya. Ini adalah pilihan. Pilihan Kartini untuk mengorbankan kebebasannya bersekolah di Batavia, pilihannya untuk menanggalkan idealismenya dengan menjadi seorang Raden Ayu. Pilihan ini tentunya terbayar mahal dengan diberikannya kebebasan lain mendirikan sekolah perempuan pribumi pertama pada masa itu.

Dalam salah satu isi suratnya,  Kartini berkata “karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikian pula dalam hidup manusia, karena ada angan-angan muda mati kadang-kadang timbullah angan-angan lain yang lebih sempurna yang boleh menjadikannya buah”.

images-4

Angan-angan Kartini untuk bersekolah di Batavia mungkin telah menjadi bunga mati, namun Sekolah Perempuan Pribumi menjadi menjadi buah dari bunga yang mati itu. Tentunya, perjuangan Kartini tidak bisa disandingkan dengan perjuangan pahlawan wanita lain yang terlibat langsung mengangkat senjata dalam perang menghadapi pemberontakan seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Martha Christina Tiahahu, Nyi Ageng Serang, ataupun Opu Daeng Risadju karena setiap pahlawan mempunyai medan perjuangan masing-masing.

Satu hal yang pasti bahwa Kartini menyadari akar permasalahan dari ketimpangan dan diskriminasi sosial perempuan pribumi adalah pendidikan. Maka menjadi wajar ketika pilihan Kartini mengorbankan kebebasannya dengan mensyaratkan mendirikan Sekolah perempuan pribumi pertama kala itu. Ikhtiar pendidikan perempuan pribumi Kartini tidak hanya dapat dimaknai sebatas pembelajaran membaca dan menulis tapi memiliki makna meningkatkan kemampuan perempuan pribumi untuk berani mengambil keputusan untuk dirinya sendiri sehingga bisa meningkatkan derajat kebebasannya.

“Ikhtiar ! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain.”

Terlihat bahwa urgensi pendidikan sudah ada sejak lama. Pendidikan pada masa itu tidak hanya menjadi indikator strata sosial seseorang tapi juga menjadi akar permasalahan diskriminasi sosial. Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Maka memperbaiki pendidikan sama dengan memperbaiki kehidupan.

Samsudiarti Sudirman

(Penulis adalah Pengurus Kohati PB HMI)

Apa Komentar Kalian?