Hitam Putih Pilkada DKI Jakarta

Melihat fenomena Pemilu DKI Jakarta kemarin, penulis jadi teringat diskusi bersama rekan lulusan Brimingham, Inggris minggu lalu. Cita-citanya pendidikan sarjana dan magister menjadi oleh-oleh perbaikan kualitas SDM di Indonesia. Di Kota Malang khususnya. Rekan penulis tersebut merupakan salah satu dosen terbaik di salah satu kampus di Kota Malang.

Ironisnya, harapan dan cita-citanya itu ternyata tak sejalan dengan kenyataan yang terjadi. Ijazahnya tidak bisa digunakan di Indonesia karena ditolak oleh Pemerintah Indonesia dengan alasan tidak bisa disetarakan atau dengan kata lain mungkin karena ia beretnis Tionghoa. Hingga akhirnya di usianya yang tidak lagi muda, ia mengambil kuliah Pascasarjana di Universitas Brawijaya dan menjadi teman diskusi hingga saat ini. Rekan penulis tersebut acap kali bercerita tentang perbedaan kehidupan beragama di Inggris Indonesia.

Hingga pada suatu waktu, menjelang proses pemilihan Pilkada DKI Jakarta digelar. Rekan tersebut bertanya pada penulis terkait pandanganku tentang Pilkada DKI Jakarta. Yang menurutnya, perlakuan umat Islam hari ini terhadap agamanya, hanya menjadikan agama sebagai kritik sosial, hingga membuat keberagaman ini belum lazim, karena dipandang terlalu mempolitisir agama. Inilah potret keberagaman kelas menengah terdidik kita hari ini. Rekan penulis tersebut kemudian mengingatkan penulis akan 60% kekayaan Indonesia yang dikuasai oleh asing. Padahal, menurutnya, bersatunya keberagamanlah yang paling dibutuhkan hari ini untuk menghadapi persoalan kapitalisme, neolib dan krisis-krisis lainnya di Indonesia.

Sambil lalu, rekan penulis itu kemudian menyuguhkan tulisan Muhamad Al-Fayaddl tentang “Kendeng Menjemput Keadilan”. Menurut tulisan itu, kekuatan Islam seperti aksi 411, 212 hingga Wisata Al-Maidah samhatlah disayangkan bila tidak gunakan untuk isu-isu seperti gerakan pemerintah melawan Freeport, membela hak-hak kaum tertindas, membela petani dari eksploitasi perusahan semen, membela negara dari dominasi korporasi multinasional. Tulisan itu sangat menyayangkan kekuatan umat Islam yang seolah-olah diam melihat ketimpangan itu semua.

Gerakan umat islam di negeri ini ternyata hanya sebatas bereaksi jika identitasnya disentil oleh orang dari identitas lain. Lebih tegasnya, gerakan umat Islam hanya sebatas gerakan politik identitas. Sehingga menurutnya gerakan umat Islam di negeri ini hanya sebatas gerakan politik identitas. Maka sulit bagi kita untuk membayangkan kedepan akan ada kebangkitan umat.

Jargon umat muslim di Jakarta, menjadikan saya memandang bahwa Islam tidak lagi rahmatan Lil alamin, orang-orang itu menjadikan agama hanya sekedar jargon ideologi tertutup dan Anti Kritik. Keberagamaannya politis tapi tidak memiliki kesadaran kritis. Padahal kalau saja kita banyak-banyak belajar, atau banyak membaca buku dari beragam sumber, dan keluar dari tempurung berpikir yang sempit, maka kita akan terbiasa menggunakan bahasa analitik dan bukan bahasa doktrin. Kita,juga akan terbiasa menggunakan bahasa yang mengajak berpikir mendalam dan bukan bahasa-bahasa sederhana yang mengajak kita untuk membenci kelompok lain. Kita semua pastinya tidak mau dipecah-belah pihak lain dengan menggunakan  isu komunis atau Syiah bukan?

Sebenarnya penulis pribadi kurang enak hati berkomentar tentang Pemilu DKI Jakarta. Bukan karena tidak peduli dan tidak mau tahu. Hanya saja penulis memang bukan Pakar Politik hingga terlalu mudah untuk memihak bahwa yang ini benar dan yang itu salah, yang ini baik dan yang itu buruk. Alasan kedua adalah karena saya muslim tapi penulis pun sadar, apa yang saya lakukan untuk agama saya pun belum melahirkan atau memberikan manfaat apa-apa untuk kaum saya. Sehingga dirasa yang harus diperbaiki adalah diri pribadi penulis, kehidupan sehari- hari dan juga keluarga penulis hingga tidak menjadikan agama hanya sekedar jadi jargon politik. Melainkan juga untuk Pedoman Hidup secara kaffah..

Penulis yakin dan percaya, siapapun yang akan memimpin kota Jakarta, mereka adalah orang-orang yang terbaik untuk Jakarta. Kita juga tidak menutup mata bahwa banyak perkembangan yang hari ini bisa kita nikmati sepanjang tinggal dan menetap di Kota Metropolitan itu.

Lewat tulisan ini, penulis ingin mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Sukarno dalam pidatonya saat menerima gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Hasanuddin, pada tahun 1963. Bung Karno, sang putra fajar itu berkata : “Jangan engkau menghirup pengetahuan hanya untuk pengetahuan. Hiruplah pengetahuan untuk berjuang. Berjuang untuk tanah airmu, untuk bangsamu dan untuk perikemanusiaan”.

Nah. Lagi-lagi untuk kemanusiaan. Di mana nilai-nilai kemanusiaan itu dibumikan dalam rangka untuk mewujudkan masyarakat yang Demokratis. Bukankah saat ini negara kita ini tengah menyelesaikan transisinya menuju tata pemerintahan yang demokratis?

Jadi, sudah terang bagi kita semua, bahwa semua pihak menginginkan demokrasi sebagai suatu sistem politik yang baik dan berkelanjutan. Dari itu, seluruh lapisan masyarakat dan elemen penting harus menjaganya dengan baik dan tertib. Kita semua harus menikmati manfaat yang dijanjikan sistem ini; Manajemen Konflik yang damai, keamanan fisik, pendidikan dasar, perlindungan kesehatan, persediaan pangan yang memadai, dan hak yang setara untuk turut ambil bagian dalam proses politik tanpa diskriminasi etnis ataupun agama.

Dalam hati, penulis membatin semoga guyonan kecil itu bisa mengobati rasa sakit atas perlakuan umat Islam ke umat rekan penulis tersebut.  Dan tentunya untuk menjaga pertemanan yang baik diantara kita yang berbeda etnis dan agama. Wassalam (*).

Anggi Husain

*Penulis adalah Pengurus Kohati PB HMI 2016-2018 dan Mahasiswa Pascasarjan Universitas Brawijaya Malang

Apa Komentar Kalian?