Hilangnya Jati Diri Mahasiswa

Oleh: Muh. Rheza Aditya

(Mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional Malang)

“Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia” (soekarno).

Paradigma yang disampaikan saat pertama kali mendengar pidato Bung Karno ini, tentu bagi semua orang yang mendengar, hati akan bergetar dan bertanya-tanya apakah mungkin dan bagaimana caranya hanya dengan sepuluh pemuda bisa mengguncangkan dunia?. Tapi realita sekarang dunialah yang mengguncang pemuda. Pemuda adalah benih-benih bangsa dan wajib bagi kita untuk menjaga marwah bangsa Indonesia. Sama seperti Bung Karno yang dapat memerdekakan Indonesia dikala ia masih muda.

Berbicara pemuda tentu tidak terlepas dari satu elemen yang bernama Mahasiswa. Seperti kata Bung Karno “penyambung lidah rakyat”.  Ketika Mahasiswa mampu melakukan rekayasa sosial tentu disinilah akan muncul element control, artinya bangsa Indonesia akan selalu dikawal oleh yang namanya Mahasiswa. Mahasiswa yang identik dengan yang namanya kuliah dan belajar tentu itu adalah sebuah keharusan yang tak boleh diabaikan, namun merugikan rasanya jika disempitkan semata perkuliahan. Seperti yang dikatakan oleh Najwa Shihab “ Apa arti ijazah yang bertumpuk-tumpuk jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk ? Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, jika hanya memperkaya sanak-famili ?”.

Sosok Mahasiswa harus mampu membuktikan kematangan pada wilayah intelektual, kreatif, percaya diri, inovatif, dan memiliki kesetiakawanan sosial dan semangat pengabdian terhadap masyarakat, bangsa dan negara yang tinggi.  Peran dan fungsi Mahasiswa salah satunya sebagai Agent of change dan sosial control  dalam menerapkan ideologi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat ini yang  telah mulai terkikis diera globalisasi. Dalam situasi yang senantiasa tumbuh dan berkembang diera globalisasi ini, menuntut peran aktif Mahasiswa sebagai kekuatan moral, dan kontrol sosial  dalam segala aspek pembangunan nasional.

Selain itu, dalam pembangunan nasional Mahasiswa diharapkan mampu bertanggung jawab dalam menjaga Pancasila, keutuhan NKRI, dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian kesadaran Mahasiswa akan kecintaan terhadap tanah air dan bangsanya semakin meningkat.  Tetapi realitas yang sekarang kita lihat itu sangat jauh dari harapan. Bahkan dalam dunia kampus sangat jarang lagi ditemukan Mahasiswa yang berani menyuarakan sebuah kebenaran. Padahal sejatinya kampus adalah gerbang kerajaan kebenaran.

Rakyat sekarang sudah tidak bisa lagi sepenuhnya berharap terhadap mahasiswa yang katanya akan selalu mengawal NKRI. Yang terjadi hari ini mahasiswa sarat akan kehilangan jati diri, kehilangan percaya diri, apatis, mentalitas yang lemah bahkan dalam dunia kampus sangat tunduk dan patuh pada kebijakan-kebijakan yang mengancam diri daripada mahasiswa itu sendiri. Malu rasanya kita yang di lahirkan dari rahim Ibu Pertiwi apalagi kita sebagai Mahasiswa sudah sepantasnya memiliki tugas dan fungsi untuk selalu berani melawan penindasan karena seperti kata Wiji Tukul “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata lawan”.

Mengingat catatan sejarah peran Mahasiswa pada saat tahun 1998 yang berhasil  meruntuhkan rezim yang otoriter ini, senantiasa menjadi pilar dan garda depan bahkan sampai terjadi penculikan aktivis, pertumpahan darah dan air mata demi mencapai kebebasan berdemokrasi. Realitas yang terjadi Mahasiswa telah kehilangan taring dalam memperjuangkan keadilan dan rasa militansi telah mulai hilang yang diakibatkan oleh terjadinya demoralisasi dan masuknya pengaruh hedonisme seperti  mabuk-mabukan, narkoba dan seks bebas.

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mensinyalir dalam setahun terakhir terdapat 2,5 juta janin digugurkan. Sebagian besar pelaku aborsi adalah usia produktif. Angka 2,5 juta ini jauh lebih besar dibandingkan dengan korban perang dunia yang memakan korban 400 ribu orang. Data tersebut selaras dengan data-data pergaulan bebas di Indonesia yang mencerminkan telah dianutnya nilai-nilai kebebasan yang sekularistik.

Hasil survei yang dilakukan Chandi Salmon Conrad di Rumah Gaul binaan Yayasan Pelita Ilmu ditemukan 42% remaja menyatakan pernah berhubungan seks dan 52% di antaranya masih aktif menjalaninya. Tidak aneh jika paham yang digunakan dalam pergaulan adalah kebebasan yang lahir dari paham sekulerisme. Pemisahan urusan agama dengan kehidupan. Paham tersebut adalah paham dari peradaban Barat yang merupakan pintu masuk bagi pergaulan bebas.

Mahasiswa harus betul-betul melawan dan menjadi motor untuk meminimalisir pengaruh tersebut. Selain itu, di Provinsi Jawa Timur sendiri, jumlah penyalahguna narkoba tercatat 568.309 orang, atau 2,1% dari jumlah penduduk di daerah ini. Di tingkat nasional, Jatim berada di peringkat ke-3. Sedangkan secara nasional, jumlah penyalahgunaan narkoba lebih dari 4 juta, atau 2,2% dari jumlah penduduk Indonesia.

Dan, dari jumlah penyalahgunaan narkoba itu, yang terbesar adalah kalangan pemuda. Pengguna narkoba dari kalangan pelajar dan Mahasiswa di Jatim terbesar di Indonesia. Sejatinya yang terpenting disini adalah peranan penting dari orang tua, memahami inti kitab agama masing-masing, dan Mahasiswa sebaiknya mencari lingkungan pergaulan yang baik seperti bergelut disuatu lembaga organisasi Mahasiswa misalnya lembaga dakwah keislaman.

Dalam dunia Mahasiswa yang selalu harus ditanamkan adalah berpegang teguh pada idealisme. Seperti yang dikatakan oleh Tan Malaka “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Ini yang perlu kita resapi dalam hati kita masing-masing sesungguhnya dalam sebuah perjuangan membela ummat jangan sampai hanya karena selembar uang kita ingin berjuang maka disitulah kita sebagai mahasiswa idealisme kita hilang seketika. Karena benteng terakhir dari sebuah perjuangan adalah idealisme. Manfaat sesungguhnya daripada mahasiswa adalah kita bebas, bebas dalam artian diberikan proteksi dan tidak terikat dalam sebuah pemerintahan dan bebas melakukan apa saja asalkan itu memberikan dampak yang baik untuk bangsa misalnya melakukan kritikan yang tendensius kepada kepala Negara Indonesia, demonstrasi dijalan dalam menuntut keadilan.

Sebagai mahasiswa tentu perlu belajar menghayati masyarakat di sekeliling kita, agar kampus tak menjelma tembok yang bisa menjadi penjara bagi mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa harus berani mengambil pendirian dalam banyak perkara, masa muda menjadi mahasiswa itu tidak boleh hobi cari aman dengan sikap netral-netralan. Sejatinya kita bagian dari pada rakyat, dan tidak bisa dipisahkan, kita tidak bisa diam ketika rakyat justru miskin teladan, dan dalam diam kita tertindas. Seperti yang dikatakan oleh Najwa Shihab “Indonesia tak tersusun dari batas peta, tapi gerak dan peran besar kaum muda”.

Indonesia jadi besar berkat kaum muda sejatinya sesama mahasiswa harus saling menjaga satu sama lain bukan malah tawuran yang tidak jelas dan sudah menjadi kewajiban kita untuk melanjutkan titah-titah perjuangan para tokoh Pahlawan yang memerdekakan Bangsa Indoneisa. Jangan pernah takut memperjuangkan sebuah kebenaran meskipun kita minoritas, karena kebenaran itu akan terus hidup di hati kita masing-masing dan akan terus berlipat ganda (*).

 

Apa Komentar Kalian?