Era Hegemoni Political Correctness di Indonesia

Era dominasi political correctness Pasca pilkada DKI jakarta yang berlangsung pada 19 april 2017 lalu, basuki tjahya purnomo alias ahok hampir resmi dinyatakan kalah, meski hasil KPU baru akan diumumkan nanti, nyatanya hampir sebagian besar quick count menyatakan kubu anies-sandi unggul. Pertarungan dua kubu paslon kali ini persis mencerminkan dua tipikal gaya polikus yang sangat bersebrangan satu sama lain.

Anies yang identik dengan gaya sopan santun, penganut paham political correctness versus ahok yang terkenal bicaranya tanpa tedeng aling-aling atau biasa dikenal dengan anti-political correctness yang sedang banyak di perbincangankan belakangan ini pasca terpilihnya president amerrica serikat yang baru. trump yang bergaya blak-blakan, banyak menyerang lawan-lawan politiknya atupun politikus-politikus di amerika yang berpaham polical correctness, dia sering menuding dalam kampanyenya bahwa political correcness adalah biang keladi problem america, banyak peneliti politik mulai membandingkan gaya kepemimpinan trump dengan president sebelumnya, barack obama yang menganut paham political correcnest.

Melihat fenomena trump yang meski “kasar” namun hampir tak menggemingkan eskalasi electabilitasnya di tengah masyarakat amerika, hal ini di buktikan dengan kemenanganya mengalahkan pesaingnya bill clinton dalam pemilihan president yang lalu, maka banyak orang menilai bahwa ahok sebagai salah seorang paslon dalam kontestasi pilkada kali ini yang memiliki kemiripan dengan trump akan bernasib sama seperti halnya trump.
Nyatanya asumsi kemenangan trump akan berdampak sama dengan ahok ini terbantahkan dengan gagalnya ahok dalam pertarungan pilkada yang baru saja dihelat ini, hal ini menunjukan bahwa kondisi masyarakat di dunia tidak seragam, di indonesia political correcness masih menjadi pertimbangan cukup kuat dalam perpolitikan negri. sehingga dalam hal ini america serikat tidak bisa menjadi acuan terhadap perpolitikan di indonesia.

Trump berhasil meski dengan gayanya yang sangat kroversial hal ini di mungkinkan dengan kenyataan bahwa komposisi masyarakat america serikat lebih mendominasi oleh orang-orang yang lebih bisa menerima gaya seperti trump, meskipun tentu masih ada pula sebagian orang yang juga menentang sikap trump yang kontroversi tersebut, masyarakat america adalah masyrakat yang liberalis. lalu bagaimana dengan di indonesia? Tentu melihat indonesia yang masih kental dengan budaya ketimuran sikap anti-politcal correctness tersebut tampaknya masih sulit diterima oleh masyarakat di indonesia, bahkan jakarta sekalipun.

disisi lain, seorang politikus yang terkenal cukup garang berbicara di depan publik, fahri hamzah, salah seorang politikus dari partai PKS, tampak bernasib kurang menguntungkan pula seperti halnya politikus-politkus anti-political correcness lainya yang berada di indonesia. oleh partai, Fahri dianggap terlalu vokal menyuarakan pendapat, sehingga di khawatirkan menimbulkan citra negativ bagi partai, setelah mengalami proses panjang akhirnya fahri pada 11 maret 2016 disingkirkan dari partai karna tidak bisa diajak satu langkah dengan partai dalam hal sikap.

Meskipun fahri tidak sama dengan ahok ataupun trump, akan tetapi ketiga tokoh ini bisa kita kategorikan sebagai contoh-contoh tokoh yang berbicara apa adanya, dan ketiganyapun memiliki kadar yang berbeda-bneda dalam hal berbicara apa adanya tersebut. Dari sample kasus ahok dan fahri, kita dapat menarik kesimpulan bahwa nilai-nilai kesopanan dan tipe political correctness masih menjadi prioritas ketimbang kejujuran dengan cara yang kasar di indonesia.

*Penulis Tidak menyertakan Biodata

Apa Komentar Kalian?